GAMEFINITY, Jakarta – Moonton Cares bersama dengan Garudaku Acedemy dan Hope Cup memberikan donasi kepada 14 sekolah di Jawa Barat dan Timur. Pengumuman resminya berjalan program ini dilakukan di MPL ID S13 dengan menghadirkan Menpora, PBESI, Co-Founder, dan MOONTON Indonesia.
Program ini sendiri dihadirkan di sekolah dalam bentuk ekstra kulikuler. Hal-hal yang didukung oleh MOONTON Cares dan yang lainnya merupakan pembiayaan untuk program itu sendiri, seperti pembiayaan pelatih dan sertifikasi pelatih. Selain itu, disediakannya Router yang dapat menjadi hak milik sekolah serta internet langganan selama satu tahun.
Alasan Program MOONTON Cares Belum Dapat Sampai di Seluruh Indonesia
Saat ini hanya 420 siswa dari 14 sekolah yang terpilih di dua daerah, yaitu Jawa Barat dan Timur untuk dapat menerima dukungan ini. Hal ini dikarenakan mereka masih dalam masa percobaan, ditambah akses dan Resources ke tempat-tempat tersebut juga lebih mudah.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi PBESI, Debora Imanuella mengungkapkan harapannya dalam Konferensi Pers pada Sabtu, 4 Mei 2024. Mereka ingin dari percontohan ini terbukanya kesempatan yang lebih besar untuk ke daerah-daerah lain.
“Jadi, kalau pertanyaan kamu, mau atau enggak (memperluas CSR) dan kedepannya, ada. Pasti itu ada rencana seperti itu, kapannya kita belum bisa tahu karena kita pengen lihat dulu kalau misalnya kita mulai dari yang paling dekat dulu aja,” ucap Debora.
Pemilihan dua daerah ini juga tidak asal-asalan. Garudaku memperoleh data dari peserta Liga Esports Nasional Pelajar yang telah dilakukan dua tahun berturut-turut. Kemudian, diambil dari peminat terbesar.
Baca juga:
“Kita buka Open for Public asal dengan syarat, satu sekolah yang sama atau satu kampus yang sama. Ini yang sudah kita lakukan, termasuk yang sedang kami lakukan sekarang, Liga Esports Mahasiswa,” tutur Head of Esports Akademi Garudaku, Robertus Aditya.
Kendala lainnya yang diungkapkan oleh Robertus adalah sekolah dan kampus memiliki kebijakan tersendiri dalam membuka ekstra kulikuler atau UKM. Hal ini pun cukup sulit untuk dilakukan karena harus melihat jumlah peminat, mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah dan pihak orangtua.
Mereka juga sedang berusaha mencari sponsor atau Brand dari luar yang ingin berkolaborasi untuk di daerah lokal masing-masing. Dalam hal ini, keberadaan kementerian untuk ikut memberikan dana dapat dipertanyakan, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Seberapa Besar APBN Kemenpora untuk Esports Itu Sendiri?
Tim Ahli Menpora dan Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK), Ferry Kono membeberkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kemenpora mencapai 3 triliun rupiah. Anggaran ini terbagi untuk urusan olahraga prestasi dan juga pemudaan.
Esports sendiri saat ini belum termasuk sebagai olahraga strategis yang mana sumber pembiayaannya dari pemerintah. Hal ini dikarenakan pemerintah merasa industrinya sudah cukup dewasa untuk bisa membuat kompetisi yang bisa menghasilkan atlet-atlet tim nasional.
Namun, pada kenyatannya, hanya beberapa dari Game di Indonesia yang dapat membuat turnamen sendiri. Misalnya seperti PUBG Mobile dan Mobile Legends: Bang Bang. Walaupun masih ada beberapa turnamen dari Game lainnya yang tidak begitu terdengar.
“Pemerintah berpikir bagaimana ketika (atlet) dikirimkan bisa membuat harum nama negara. Jadi, saya pikir APBN tetap tersedia, walaupun sifatnya waspada. Walau sedikit tetap ada,” ungkap Ferry.
Esports sendiri belum terlalu dipandang oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari medali yang diberikan tidak setara, padahal banyak atlet yang dikirimkan. Lain dari olahraga individual di mana dikirim 5 medali untuk 5 atlet.
Post Terkait:

